Oleh : Zulfiar Malin Parmato
PRnewspresisi.com–Lebaran kali ini datang… tapi rasanya tidak benar-benar pulang. Rumah masih berdiri, pintu masih terbuka, jalan yang kami tempuh setiap tahun masih sama. Tapi satu yang hilang—dan itu membuat semuanya berbeda.
Amak… sudah tidak ada.
Kami selalu memanggilnya Amak. Sosok sederhana, tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan kekuatan yang tak pernah kami sadari besarnya… sampai kini kami kehilangannya.
Namanya Budiman. Nama yang mungkin terdengar gagah untuk seorang perempuan. Tapi memang begitulah hidup yang ia jalani—gagah, kuat, dan penuh tanggung jawab. Ia bukan hanya ibu bagi kami, tapi juga ayah, pelindung, sekaligus harapan yang tak pernah padam.
Orang-orang mengenalnya sebagai Ibuk Budi, guru sekolah dasar yang setiap hari mengajar dengan penuh kesabaran. Tapi kami tahu, sepulang dari mengajar, ia masih harus berjuang lebih keras—memikirkan bagaimana lima anaknya bisa makan, bisa sekolah, dan bisa punya masa depan.
Kami tumbuh bukan dalam kelimpahan, tapi dalam perjuangan.
Kami melihat sendiri bagaimana Amak harus berhutang, menahan keinginan, bahkan mengorbankan dirinya sendiri… hanya agar kami tidak merasakan kekurangan yang sama.

Seringkali, ia tersenyum di depan kami… padahal kami tahu, di balik itu ada lelah yang tak pernah ia ceritakan.
Dan kalimat itu… kalimat yang dulu mungkin terdengar biasa saja, kini justru menghantam dada kami setiap kali teringat:
“Joaa ka iduik bisuak, awak dak punyo harato pusako do.”
Tidak ada warisan harta, katanya. Tapi Amak lupa… ia telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar dari itu—nilai hidup, keteguhan, dan cinta yang tak terukur.
Kini kami berdiri… karena ia pernah jatuh berkali-kali untuk kami.
Kini kami bisa berjalan… karena dulu ia tak pernah berhenti menopang langkah kami.
Saat saya memutuskan pindah ke Padang, ia hanya berkata pelan, hampir seperti berbisik:
“Ntu dak ka ang caliak-caliak den lai…”Kalimat sederhana… tapi penuh rasa takut kehilangan.
Saya menjawab dengan yakin, berusaha menenangkan hatinya: “Jaan cameh lo amak lai, tiap minggu den pulang ka Solok.”
Dan saya tepati itu.
Setiap Jumat sore, saya pulang. Menempuh jalan yang sama, membawa rindu yang sama, hanya untuk melihat Amak… memastikan ia baik-baik saja.
Saya kira waktu masih panjang.
Saya kira Amak akan selalu ada.
Ternyata… saya salah.
Selasa pagi itu, pukul 06.30 WIB… dunia kami seperti berhenti. Amak pergi.
Tanpa sempat kami benar-benar siap.
Dua minggu sebelumnya ia jatuh, dan sejak itu tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Tapi kami tetap berharap… berharap ia akan kembali bangkit, seperti biasanya.
Nyatanya, kali ini Amak benar-benar lelah.
Ia memilih beristirahat… untuk selamanya.
Ramadhan ini terasa berbeda.
Tidak ada lagi suara Amak di dapur. Tidak ada lagi pertanyaan sederhana yang selalu kami tunggu:
“Bilo ka pulang?”
Dan Lebaran…
Lebaran kali ini adalah yang paling sunyi.
Tidak ada lagi yang kami cium tangannya. Tidak ada lagi tempat kami bersimpuh, melepas rindu, meminta maaf.
Rumah tetap sama… tapi tidak lagi menjadi “pulang”.
Kini kami hanya bisa mengenang.
Mengingat setiap pengorbanannya… setiap nasihatnya… setiap doa yang diam-diam ia panjatkan untuk kami.
Dan kami sadar…
Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan seorang ibu. Tidak ada yang benar-benar kuat menghadapi dunia tanpa Amak.
Selamat jalan, Amak…
Terima kasih untuk setiap luka yang kau sembunyikan demi kami. Terima kasih untuk setiap doa yang tak pernah kau hentikan. Terima kasih… karena telah menjadi rumah, bahkan ketika dunia terasa begitu kejam.
Kini hanya doa yang bisa kami kirimkan, menembus langit:
“Rabbighfir li wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”
Ya Allah… ampuni Amak kami… sayangi ia sebagaimana ia menyayangi kami tanpa batas…
Tempatkan ia di surga-Mu yang paling indah… bebaskan ia dari segala siksa…
Dan jika Engkau berkenan…
pertemukan kami kembali dengannya… di jannah-Mu. 🤲











