Payakumbuh, PRNewspresisi.com—Lazimnya, sebuah seremoni perpisahan sekolah digelar dengan nuansa formal di dalam gedung atau aula pertemuan. Namun, ada pemandangan berbeda yang disuguhkan oleh Madrasah Aliyah Swasta (MAS) PSA pada tahun ajaran ini. Memilih untuk keluar dari zona nyaman rutinitas formalitas, pihak sekolah menggelar acara pelepasan siswa di objek wisata Batang Tabik Waterpark, Payakumbuh, pada Rabu (1/4/2026).
Keputusan untuk melaksanakan kegiatan di ruang terbuka ini bukan tanpa alasan. Lokasi yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk bangunan sekolah diharapkan mampu memberikan kesan mendalam serta menyegarkan pikiran para siswa setelah berjuang menghadapi ujian akhir. Air yang jernih dan pepohonan hijau di sekitar Batang Tabik menjadi saksi bisu momen transisi para siswa menuju kedewasaan.
Pesan Mendalam Kepala MadrasahAcara dimulai dengan suasana khidmat di bawah naungan langit Payakumbuh. Kepala MAS PSA, Drs. H. Irdizon, dalam sambutannya memberikan wejangan yang sangat filosofis bagi para siswa yang akan segera meninggalkan almamater.
Beliau menekankan bahwa perpisahan bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal untuk memantapkan potensi diri di dunia nyata.
“Dalam kehidupan yang kian kompetitif ini, kita dituntut untuk terus memperbarui dan menambah potensi ilmu yang ada dalam diri. Ingatlah satu hal: semakin tinggi ilmu yang kalian miliki, maka semakin tinggi pula derajat dan potensi hidup yang bisa kalian raih di masa depan,” ujar Drs. H. Irdizon di hadapan ratusan siswa dan guru.

Beliau juga mengingatkan agar para alumni PSA nantinya tidak menjadi pribadi yang lekas puas. Dunia di luar sekolah sangatlah luas, dan pendidikan formal di madrasah hanyalah fondasi awal.
“Jangan pernah berpuas diri dengan apa yang kalian dapatkan hari ini. Teruslah raih ilmu setinggi mungkin, baik melalui jalur akademik ke perguruan tinggi maupun dengan mengasah skill praktis yang relevan dengan perkembangan zaman,” tambahnya dengan nada penuh harap.
Di akhir pidatonya, beliau menyampaikan pesan haru yang menunjukkan kedekatan emosional antara guru dan murid.
Ia berharap, suatu saat nanti para siswa ini akan kembali berkunjung ke sekolah bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai sosok yang telah berhasil dan membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Isak Tangis dan Permohonan Maaf
Puncak emosi dalam acara ini terjadi saat perwakilan siswa naik ke atas panggung untuk menyampaikan kata perpisahan. Riskiah Hanifah (Hani) yang mewakili kelas XII dan Fani Aulia (Fani) dari kelas IX, berdiri dengan suara yang awalnya lantang namun perlahan mulai bergetar.
Mereka menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada jajaran pendidik yang telah bersabar membentuk karakter mereka.
“Terima kasih kepada bapak dan ibu guru yang tidak hanya memberikan kami rumus dan teori, tapi juga memberikan kami arah hidup,” ucap Hani yang mulai meneteskan air mata.
Fani pun menambahkan betapa berharganya persahabatan yang terjalin selama di sekolah. Baginya, teman-teman dan adik kelas adalah keluarga kedua yang membentuk memori masa remaja mereka.
“Kenangan ini sangat berharga. Mungkin di tempat lain nanti, kami tidak akan pernah menjumpai kebersamaan yang tulus seperti yang kami rasakan di PSA,” ungkapnya.
Suasana semakin mengharu biru saat kedua siswi tersebut secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas perilaku seluruh siswa selama menempuh pendidikan.
Mereka menyadari bahwa selama ini, tingkah laku dan kenakalan remaja mereka sering kali menguji kesabaran para guru hingga menimbulkan amarah.
“Kami sadar, perbuatan kami terkadang di luar ekspektasi dan sangat melukai hati bapak dan ibu guru. Kami memohon maaf dari lubuk hati yang terdalam. Amarah bapak dan ibu adalah bentuk kasih sayang agar kami tidak tersesat,” tutur mereka yang disambut dengan isak tangis dari siswa lainnya, bahkan beberapa guru pun tampak menyeka air mata.
Penutup yang Berkesan
Acara ditutup dengan bersalam-salaman dan foto bersama di sekitar area waterpark. Meski perpisahan ini diwarnai dengan kesedihan, namun semangat untuk menyongsong masa depan tetap terpancar dari wajah para siswa.
Lokasi Batang Tabik yang santai memungkinkan interaksi terakhir antara guru dan murid berlangsung lebih akrab tanpa sekat-sekat formalitas kelas.
Perpisahan tahun 2026 ini akan tercatat dalam sejarah MAS PSA sebagai salah satu momen paling emosional dan unik, di mana alam menjadi saksi kembalinya para tunas bangsa ke tengah masyarakat untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berkarakter. (hendrik)











