Sulit Air, PRnewspresisi.com—Ribuan cahaya lampu menyinari malam Kamis yang penuh berkah di Masjid Azzaimah, Batu Bola, Nagari Sulit Air, tempat berlangsungnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah. Lebih dari 500 jemaah datang berbondong-bondong untuk mengikuti acara yang sarat nilai keagamaan dan kebersamaan ini.
Sejak selepas salat Isya, halaman masjid mulai dipadati jemaah dari berbagai jorong. Para orang tua, pemuda, ibu-ibu majelis taklim, hingga anak-anak turut hadir dengan penuh antusias. Kehadiran ini mencerminkan kecintaan yang mendalam masyarakat Sulit Air kepada Rasulullah SAW dan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keagamaan.
Ceramah Penuh Hikmah oleh Buya Ristawardi
Acara inti diisi oleh tausiyah dari H. Buya Ristawardi Datuak Inyiak Batungkek Ameh, seorang ulama yang dikenal luas dengan penyampaian dakwahnya yang santun, mendalam, dan menyentuh hati. Dalam ceramahnya, Buya menyampaikan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah bentuk cinta umat kepada Rasulullah SAW, serta media untuk menyegarkan kembali semangat meneladani akhlak beliau.
“Cinta kepada Nabi itu bukan hanya dengan lisan dan seremonial. Tapi harus diwujudkan dalam akhlak, ibadah, dan bagaimana kita bermuamalah di tengah masyarakat,” ujar Buya disambut anggukan khidmat dari para jemaah.
Buya juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai role model dalam kehidupan keluarga, sosial, dan bahkan pemerintahan. Menurut beliau, umat Islam saat ini sangat membutuhkan keteladanan akhlak Nabi sebagai obat dari berbagai persoalan moral dan sosial.
Kehadiran Lengkap Unsur Pemerintahan dan Adat
Acara Maulid ini mendapat dukungan luas dari pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat. Hadir dalam kesempatan tersebut:
Pjs Wali Nagari Sulit Air dan perangkat nagari, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nagari, Ketua Badan Musyawarah Nagari (BMN), Para Kepala Jorong, Bundo Kanduang dan Niniak Mamak, Perwakilan organisasi kepemudaan, majelis taklim, dan unsur masyarakat lainnya
Kehadiran lintas elemen ini menjadi simbol kuatnya sinergi antara adat dan syarak, antara pemerintahan dan masyarakat, dalam membangun nagari yang religius dan bermartabat.
“Ini bukan hanya acara seremonial. Ini bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dan adat masih hidup dan menjadi fondasi masyarakat Sulit Air,” ujar salah satu tokoh adat yang turut hadir malam itu.
Manfaat Keagamaan dan Sosial Setelah Acara
Seusai acara, terlihat perubahan suasana hati dan semangat spiritual masyarakat. Banyak warga yang menyampaikan bahwa tausiyah Buya menjadi pemantik introspeksi diri dan pembangkit semangat untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.
Beberapa manfaat yang dirasakan masyarakat antara lain:
Meningkatnya kesadaran beribadah secara pribadi dan kolektif, Tumbuhnya semangat kebersamaan dan gotong royong antarjemaah, Meningkatnya rasa hormat kepada ulama dan pemimpin adat, Memperkuat nilai pendidikan karakter Islami dalam keluarga dan lingkungan, Menjadikan masjid kembali sebagai pusat peradaban spiritual dan sosial
Harapan untuk Ke Depannya
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Buya Ristawardi. Doa dipanjatkan agar masyarakat Sulit Air senantiasa diberikan kesehatan, rezeki yang halal, kekuatan iman, dan perlindungan dari segala marabahaya.
Panitia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan dan diperluas cakupannya. Tidak hanya untuk memperingati hari besar Islam, tetapi juga sebagai media dakwah dan penguatan identitas keislaman yang menyatu dengan adat Minangkabau. (Budi Harto-Hendrik)











