Sulit Air, PRNewspresisi.com–Gemuruh suara jangkrik di perbukitan Kabupaten Solok seolah kalah oleh kekhusyukan yang menyelimuti Masjid Raya Sulit Air pada malam 17 Ramadhan 1447 H. Malam itu, Jumat (6/3/2026), bukan sekadar peringatan Nuzulul Quran biasa.
Ada kerinduan yang tuntas dan dahaga spiritual yang terobati bagi masyarakat Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Diatas.
Penyebabnya adalah kehadiran sosok “Bundo Kanduang” yang telah lama berkiprah di tanah perantauan, Bunda Rahma. Motivator Muslimah nasional sekaligus konsultan dakwah asal Bandung ini kembali ke akar silsilahnya untuk membagikan mutiara hikmah dalam sebuah tabligh akbar yang menyedot perhatian ratusan jemaah dari berbagai penjuru nagari.
Momentum Nuzulul Quran: Kembali ke Al-Qur’an dan Diri Sendiri
Acara yang dimulai selepas shalat Isya tersebut berlangsung dalam suasana hangat namun khidmat. Bunda Rahma, yang dikenal luas sebagai penggerak mental di berbagai Lapas di Jawa Barat, hadir bukan hanya sebagai penceramah, melainkan sebagai seorang putri daerah yang pulang membawa pesan pengingat.
Dalam narasinya, Bunda Rahma menekankan bahwa peringatan turunnya Al-Qur’an harus menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan “audit spiritual” atau muhasabah diri. Ia menyoroti fenomena masyarakat modern yang seringkali merasa hampa meski secara materi terlihat berkecukupan.
”Jika kehidupan kita terasa sempit, tidak tenang, atau tidak berkah, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi ada yang salah dalam cara kita menjalaninya. Bisa jadi apa yang kita dapatkan diperoleh dengan cara yang tidak baik atau tidak halal,” tegas Bunda Rahma di hadapan jemaah yang menyimak dengan saksama.
Menyeimbangkan Ilmu dan Akhlak: Pelajaran dari Balik Jeruji
Satu hal yang paling menarik dari ceramah Bunda Rahma malam itu adalah keberaniannya membedah realita sosial berdasarkan pengalamannya menjadi pembimbing narapidana di Kota Bandung. Ia berbagi kisah tentang bagaimana kecerdasan intelektual tanpa kendali moral bisa menjadi bumerang yang mematikan.
Ia menceritakan bahwa di lembaga pemasyarakatan, ia bertemu dengan berbagai kalangan, mulai dari pejabat tinggi, oknum aparat, hingga mereka yang bergelar ustadz sekalipun.
”Kehidupan itu harus berilmu dan berakhlak. Saat ini, kita melihat banyak orang hebat yang berilmu tinggi namun tergelincir karena ketiadaan akhlak. Sebaliknya, orang yang punya akhlak baik tapi tidak berilmu juga akan menemui kesulitan dalam menavigasi zaman yang kompleks ini. Keduanya adalah sayap yang harus ada secara bersamaan,” tuturnya.
Pesan ini terasa sangat relevan mengingat kondisi bangsa saat ini yang seringkali diuji oleh krisis integritas. Bunda Rahma mengingatkan masyarakat Sulit Air agar tidak hanya mengejar pendidikan tinggi bagi anak-anak mereka, tetapi juga memastikan pondasi adab dan moralitas tertanam kuat sejak dini.
Ajakan Bersujud: Keutamaan Sholat Sunat Taubat
Puncak dari motivasi yang diberikan Bunda Rahma adalah ajakan untuk mempraktikkan “pembersihan jiwa” melalui Sholat Sunat Taubat dan istigfar yang konsisten. Baginya, taubat bukanlah tanda bahwa seseorang adalah penjahat besar, melainkan tanda bahwa seorang hamba menyadari keterbatasannya di hadapan Sang Khalik.
”Kita tidak pernah tahu kapan garis finis kehidupan atau ajal akan menjemput. Jangan menunggu tua untuk bertaubat, karena maut tidak mengenal antrean usia. Mari kita perbanyak istigfar, mohon ampun atas dosa-dosa tersembunyi yang mungkin selama ini menghambat datangnya pertolongan Allah,” ajak beliau dengan nada yang menyentuh hati.
Masyarakat yang hadir tampak tertunduk, meresapi setiap kalimat. Ajakan ini seolah menjadi oase di tengah rutinitas harian warga yang mungkin selama ini terlalu sibuk dengan urusan duniawi.
Kebanggaan Nagari dan Harapan Masa Depan
Kehadiran Bunda Rahma di Masjid Raya Sulit Air juga disambut penuh rasa syukur oleh tokoh masyarakat setempat. Ketua Pengurus Masjid Raya Sulit Air, Edi Efri, S.Pd., MM., menyatakan bahwa Bunda Rahma adalah representasi sukses dari putra-putri Sulit Air di perantauan yang tidak lupa pada kampung halaman (ndak lupuak dek hujan, ndak lakang dek paneh).
”Bunda Rahma merupakan salah satu tokoh yang membanggakan bagi masyarakat Sulit Air. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam pembinaan umat di sini. Kisah sukses dan tantangan yang beliau lalui menjadi inspirasi bagi generasi muda kami bahwa kesuksesan sejati adalah ketika keberadaan kita bisa memberi manfaat bagi orang lain,” ujar Edi Efri dalam sambutannya.
Selain memberikan materi motivasi, Bunda Rahma juga menyisipkan tausiah mengenai pentingnya menjaga tali silaturahmi. Menurutnya, kerukunan warga Nagari Sulit Air, baik yang ada di kampung maupun di perantauan, adalah modal utama untuk membangun kemajuan ekonomi dan sosial di wilayah X Koto Diatas.
Penutup yang Syahdu: Doa Bersama di Bawah Langit Ramadhan
Acara malam itu diakhiri dengan pelaksanaan shalat Tarawih dan Witir berjamaah yang diikuti dengan doa bersama. Suasana haru menyeruak saat doa dilantunkan, memohon keberkahan untuk Nagari Sulit Air, keselamatan bangsa, dan ampunan bagi para orang tua.
Bagi warga Sulit Air, kehadiran Bunda Rahma bukan sekadar acara seremonial tahunan. Ini adalah suntikan energi spiritual yang diharapkan mampu membekas lama di dalam dada. Masyarakat pulang dengan langkah ringan, membawa bekal semangat baru untuk memperbaiki kualitas ibadah di sisa sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Tokoh Muslimah seperti Bunda Rahma membuktikan bahwa dakwah tidak melulu soal teori di atas mimbar, tapi soal bagaimana berbagi pengalaman hidup, menyentuh luka batin dengan empati, dan mengarahkan kembali kompas kehidupan manusia menuju ridha Allah SWT.
Semoga langkah kaki Bunda Rahma kembali ke tanah kelahirannya membawa keberkahan yang berkelanjutan, menjadikan Sulit Air sebagai nagari yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga religius dan berakhlak mulia. (Hendrik)











